Breaking News
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat (folklore) Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat (folklore) Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juli 25, 2012

Terjadinya Danau Toba (Sumatra Utara)

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pemuda tani yatim piatu di bagian utara pulau Sumatra. Daerah tersebut sangatlah kering. Syahdan, pemuda itu hidup dari bertani dan memancing ikan. Pada suatu hari ia memancing seekor ikan yang sangat indah. Warnanya kuning keemasan. Begitu dipegangnya, ikan tersebut berubah menjadi seorang putri jelita. Putri itu adalah wanita yang dikutuk karena melanggar suatu larangan. Ia akan berubah menjadi sejenis mahluk yang pertama menyentuhnya. Oleh karena yang menyentuhnya manusia, maka ia berubah menjadi seorang putri.

Terpesona oleh kecantikannya, maka pemuda tani tersebut meminta sang putri untuk menjadi isterinya. Lamaran tersebut diterima dengan syarat bahwa pemuda itu tidak akan menceritakan asal-usulnya yang berasal dari ikan.Pemuda tani itu menyanggupi syarat tersebut. Setelah setahun, pasangan suami istri tersebut dikarunia seorang anak laki-laki. Ia mempunyai kebiasaan buruk yaitu tidak pernah kenyang. Ia makan semua makanan yang ada.

Pada suatu hari anak itu memakan semua makanan dari orang tuanya. Pemuda itu sangat jengkelnya berkata: "dasar anak keturunan ikan!"Pernyataan itu dengan sendirinya membuka rahasia dari isterinya.Dengan demikian janji mereka telah dilanggar.


Istri dan anaknya menghilang secara gaib. Ditanah bekas pijakan mereka menyemburlah mata air. Air yang mengalir dari mata air tersebut makin lama makin besar. Dan menjadi sebuah danau yang sangat luas. Danau itu kini bernama Danau Toba

***********************************************************************************
***********************************************************************************

The Occurrence
Lake Toba

 

In ancient times, there lived an orphaned peasant boy in the northern part of Sumatra island. The area is very dry. Syahdan, the young man's life from farming and fishing. One day he was fishing a very beautiful fish. The color is golden yellow. So holding, the fish turns into a beautiful princess. Daughter was the woman who was condemned for violating a ban. He will turn into a kind of creature that first touch. Because the human touch, it turns into a princess.

Fascinated by her beauty, the young farmer asked the princess to become his wife. Applications are accepted on the condition that the young man would not tell their origins from that farm ikan.Pemuda the agreed terms. After a year, the couple was blessed with a son. He has a bad habit that is never satiated. He ate all the food there.

One day the child was eating all the food from their parents. The young man was very annoyed said: "The basis of the offspring of fish!" That statement by itself unlock the secrets of this isterinya.Dengan their promise has been breached.

His wife and son disappeared mysteriously. Ground of their former footing menyemburlah springs. Water flowing from the springs is increasingly large. And became a vast lake. The lake now called Lake Toba
Read more ...

LEGENDA CANDI PRAMBANAN (Yogyakarta)

Di dekat kota Yogyakarta terdapat candi Hindu yang paling indah di Indonesia. Candi ini dibangun dalam abad kesembilan Masehi. Karena terletak di desa Prambanan, maka candi ini disebut candi Prambanan tetapi juga terkenal sebagai candi Lara Jonggrang, sebuah nama yang diambil dari legenda Lara Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Beginilah ceritanya.

Konon tersebutlah seorang raja yang bernama Prabu Baka. Beliau bertahta di Prambanan. Raja ini seorang raksasa yang menakutkan dan besar kekuasaannya. Meskipun demikian, kalau sudah takdir, akhirnya dia kalah juga dengan Raja Pengging. Prabu Baka meninggal di medan perang. Kemenangan Raja Pengging itu disebabkan karena bantuan orang kuat yang bernama Bondowoso yang juga terkenal sebagai Bandung Bondowoso karena dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung.

Dengan persetujuan Raja Pengging, Bandung Bondowoso menempati Istana Prambanan. Di sini dia terpesona oleh kecantikan Lara Jonggrang, putri bekas lawannya -- ya, bahkan putri raja yang dibunuhnya. Bagaimanapun juga, dia akan memperistrinya.

Lara Jonggrang takut menolak pinangan itu. Namun demikian, dia tidak akan menerimanya begitu saja. Dia mau kawin dengan Bandung Bondowoso asalkan syarat-syaratnya dipenuhi. Syaratnya ialah supaya dia dibuatkan seribu candi dan dua sumur yang dalam. Semuanya harus selesai dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso menyanggupinya, meskipun agak keberatan. Dia minta bantuan ayahnya sendiri, orang sakti yang mempunyai balatentara roh-roh halus.

Pada hari yang ditentukan, Bandung Bondowoso beserta pengikutnya dan roh-roh halus mulai membangun candi yang besar jumlahnya itu. Sangatlah mengherankan cara dan kecepatan mereka bekerja. Sesudah jam empat pagi hanya tinggal lima buah candi yang harus disiapkan. Di samping itu sumurnya pun sudah hampir selesai.

Seluruh penghuni Istana Prambanan menjadi kebingungan karena mereka yakin bahwa semua syarat Lara Jonggrang akan terpenuhi. Apa yang harus diperbuat? Segera gadis-gadis dibangunkan dan disuruh menumbuk padi di lesung serta menaburkan bunga yang harum baunya. Mendengar bunyi lesung dan mencium bau bunga-bungaan yang harum, roh-roh halus menghentikan pekerjaan mereka karena mereka kira hari sudah siang. Pembuatan candi kurang sebuah, tetapi apa hendak dikata, roh halus berhenti mengerjakan tugasnya dan tanpa bantuan mereka tidak mungkin Bandung Bondowoso menyelesaikannya.


Keesokan harinya waktu Bandung Bondowoso mengetahui bahwa usahanya gagal, bukan main marahnya. Dia mengutuk para gadis di sekitar Prambanan -- tidak akan ada orang yang mau memperistri mereka sampai mereka menjadi perawan tua. Sedangkan Lara Jonggrang sendiri dikutuk menjadi arca. Arca tersebut terdapat dalam ruang candi yang besar yang sampai sekarang dinamai candi Lara Jonggrang. Candi-candi yang ada di dekatnya disebut Candi Sewu yang artinya seribu..
*********************************************************************************
*********************************************************************************

Near the city of Yogyakarta are the most beautiful Hindu temple in Indonesia. This temple was built in the ninth century AD. Being situated in the village of Prambanan, the temple is called Prambanan temple but also known as Lara Jonggrang, a name taken from the legend Lara Jonggrang and Bondowoso. Here's the story.
Tersebutlah supposedly a king named King Baka. He was enthroned at Prambanan. Raja is a big giant scary and power. Nevertheless, when it's fate, eventually he lost also the King Pengging. Prabu Baka died on the battlefield. King Pengging victory was due to the help of a strong man named Bondowoso which is also known as Bondowoso because he has a powerful weapon called Bandung. 

With the consent of the King Pengging, Bondowoso occupy the Palace of Prambanan. Here he was fascinated by the beauty Jonggrang Lara, daughter of former opponents - yes, even the daughter of the murdered king. However, he will memperistrinya.
Lara Jonggrang afraid reject the proposal. However, he would not take it lying down. He wants to marry Bondowoso provided the terms are met. The requirement is that he made a thousand temples and two deep wells. Everything should be done overnight. Bondowoso menyanggupinya, though somewhat objections. He requested the help of his father, the person who has a powerful army of spirits.
On the appointed day, and their followers Bondowoso and spirits began to build up a substantial amount of the temple. It is surprising how they work and speed. After four hours of the morning only five temples are to be prepared. Besides his well was already nearing completion.
All occupants of the Palace of Prambanan become confused because they are sure that all requirements will be met Lara Jonggrang. What should be done? Soon the girls awakened and told to pound rice in a mortar and laying flowers are fragrant. Hearing the sound of mortar and smell the fragrant flowers, fine spirits stop their work because they thought it was noon. Making less of a temple, but what about to say, the spirit of fine stops doing its job and without their help it is impossible to solve Bondowoso.
Bondowoso time the next day knowing that the effort failed, not playing angry. He condemned the girls around Prambanan - would not anyone want to marry them until they become old maids. While Lara Jonggrang himself cursed into a statue. There are statues in the temple is a large room that hitherto named Lara Jonggrang temple. The temples are nearby called Sewu which means a thousand
Read more ...

Sangkuriang the Legend of Tangkuban Prahu ( West Java )

Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.Ia mempunyai seorang  anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu.


Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.

Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan.

Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembaraSetelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah. Ia akan selamanya muda dan  memiliki kecantikan abadi.

Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya. Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang melamarnya.  Oleh karena pemuda itu sangat tampan, Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya.

Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi demi melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan.

Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.

Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota.

Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.


Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu."
********************************************************************************
********************************************************************************

in English

In days of old, there came the story of a princess named Dayang West Java Sumbi.Ia had a son named Sangkuriang. The child was fond of hunting.

It is accompanied by Tumang hunting, dog pet palace. Sangkuriang not know that dog is god and his father drops.
On a day Tumang refused to follow his order to catch prey animals. But the dog was diusirnya into the forest.
When he returned to the palace, telling Sangkuriang incident to his mother. Dayang SUMBI absurdly so angry to hear the story. Without accidentally hitting the head with a spoon rice Sangkuriang it holds. Sangkuriang hurt. It is very frustrated and go mengembaraSetelah incident, Dayang SUMBI very regretted it. It's always very diligent in prayer and meditation. At one time, the gods gave him a gift. It will be forever young and has a timeless beauty.
After years of traveling, Sangkuriang eventually intends to return to her homeland. Arriving there, the government has changed totally. There he met a beautiful girl, which no other is Dayang SUMBI. Entranced by her beauty, then, Sangkuriang melamarnya. Because the boy is very handsome, Dayang SUMBI been fascinated him.
In a day of farewell Sangkuriang ask for hunting. Dayang ask it to tidy tie SUMBI head. Dayang SUMBI surprise to see the scar on her head candidate. The wound exactly as her wound has gone traveling. After long watching, the boy's face appears very similar to his face. It became very frightened.
But then it searches for its efforts to thwart the application process. It filed two conditions. First, he asked the boy to curb Citarum river. And second, they ask Sangkuriang to make a large boat to cross the river. The second condition to have been met before the dawn.
That night Sangkuriang do tapa. With kesaktiannya it deployed hidden fliers to help complete it. Dayang SUMBI been secretly spying on the job. Similarly, work is nearly complete, Dayang SUMBI ordered his team to hold a red silk cloth on the east side of town.
While squeezing the color seen in the east of the city, counting the day has Sangkuriang by morning. It also stopped work. It was very angry because it means they can not fulfill the requested Dayang SUMBI.
With his strength, he made a break through retention. There was heavy flooding swept across the city. It was then kicked the boat that made it great. Float the boat and fell into a mountain called "Tangkuban Perahu."

Read more ...

Batu Golog ( Nusa Tenggara Barat )

Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain. Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi. Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula. Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah batu ceper didekat tempat ia bekerja.

Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: "Ibu batu ini makin tinggi." Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, "Anakku tunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk."

Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu makin lama makin meninggi hingga melebihi pohon kelapa. Kedua anak itu kemudian berteriak sejadi-jadinya. Namun, Inaq Lembain tetap sibuk menumbuk dan menampi beras. Suara anak-anak itu makin lama makin sayup. Akhirnya suara itu sudah tidak terdengar lagi.

Batu Goloq itu makin lama makin tinggi. Hingga membawa kedua anak itu mencapai awan. Mereka menangis sejadi-jadinya. Baru saat itu Inaq Lembain tersadar, bahwa kedua anaknya sudah tidak ada. Mereka dibawa naik oleh Batu Goloq.

Inaq Lembain menangis tersedu-sedu. Ia kemudian berdoa agar dapat mengambil anaknya. Syahdan doa itu terjawab. Ia diberi kekuatan gaib. dengan sabuknya ia akan dapat memenggal Batu Goloq itu. Ajaib, dengan menebaskan sabuknya batu itu terpenggal menjadi tiga bagian. Bagian pertama jatuh di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa Gembong olrh karena menyebabkan tanah di sana bergetar. Bagian ke dua jatuh di tempat yang diberi nama Dasan Batu oleh karena ada orang yang menyaksikan jatuhnya penggalan batu ini. Dan potongan terakhir jatuh di suatu tempat yang menimbulkan suara gemuruh. Sehingga tempat itu diberi nama Montong Teker.

Sedangkan kedua anak itu tidak jatuh ke bumi. Mereka telah berubah menjadi dua ekor burung. Anak sulung berubah menjadi burung Kekuwo dan adiknya berubah menjadi burung Kelik. Oleh karena keduanya berasal dari manusia maka kedua burung itu tidak mampu mengerami telurnya.

(Cerita ini diadoptasi secara bebas dari I Nengah Kayun dan kawan-kawan, "Batu Goloq," Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat, Jakarta: Departemen P dan K, 1981, hal. 21-25).
 
*************************************************************************************
*************************************************************************************

in English

In antiquity in the area near the river sawing Padamara lived a poor family. The wife named Inaq Lembain and her husband named Amaq Lembain. Their livelihoods are agricultural laborers. Every day they walk kedesa village offers strength to pound rice. If Inaq Lembain pound rice it came with her two children as well. One day, he was busy pounding rice. Both children put on a flat rock near where she works.
Surprisingly, when Inaq began to pound, where they sat stone grew upward. Feel like removed, then his eldest son started calling his mother: "Mother is the higher rocks." But unfortunately Inaq Lembain was busy working. He answered, "My son just wait a minute, she was just pounding."
That happened repeatedly. A flat stone is increasingly rising to more than a coconut tree. The second boy then cried uncontrollably. However, Inaq Lembain still busy pounding and winnowing rice. Children's voices grew faint. Finally, the voice was not heard again.
Stone Goloq it higher and higher. Up to bring the children reach the clouds. They were crying uncontrollably. Only then did Inaq Lembain realized, that her children are gone. They were taken up by Stone Goloq.
Inaq Lembain sobbed. He then prayed to be able to pick up her son. Syahdan prayer was answered. He was given supernatural powers. with his belt he will be able to chop it Goloq Stone. Magically, the stone was cut with severed his belt into three parts. The first section fell in a place which later was named the Village Gembong olrh because the soil there shaking. The second part falls in the place called Dasan Stone because there are people who witnessed the fall of a fragment of this stone. And the last piece to fall in a place that give rise to a roar. So the place was named Montong Teker.
While the children did not fall to earth. They have been turned into a two-tailed birds. The eldest son turned into a bird and her sister Kekuwo Kelik turned into birds. Because both are derived from humans, the two birds were not able to incubate their eggs.
(The story is freely adapted from I Nengah Kayun and his friends, "Stone Goloq," Folklore of West Nusa Tenggara, Jakarta: Ministry of P and K, 1981, p. 21-25).
Read more ...
Designed By