Breaking News
Tampilkan postingan dengan label Elektronika Dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elektronika Dasar. Tampilkan semua postingan
Kamis, Agustus 15, 2013
Sabtu, Juli 21, 2012
Download PCB Designer 1.54 Free Software
Unduh PCB Designer 1,54 Free Software. Pembuatan sirkuit elektronik tidak dapat dipisahkan dari Jalur Membuat PCB atau Blok Printed Circuit. Dalam pembuatan jalur rangkaian pada teknik menggambar PCB dikenal beberapa sirkuit Jalur Masters, mulai segera menggambar teknik menggunakan tangan atau dengan bantuan komputer melalui Designer Software PCB 1,54 Gratis.
Software PCB Designer 1,54 Download Gratis ini sangat mudah dioperasikan dan memiliki kemampuan yang sangat baik. Banyak menu yang diberikan meliputi Jalur Lebar pengaturan, Komponen Diameter Pad, Komponen Lubang Kaki Ukuran, Pin DIP IC dan Cetak Printer Settings. Meskipun tidak dilengkapi dengan Route Auto Line Designer Software PCB PCB 1,54 Unduh Gratis ini, tapi manual draf menurut saya lebih menguntungkan.
Setelah Anda download Software PCB Designer 1,54 RAR Gratis file itu, silahkan Extract dan Jalankan Setup dan Masukkan serial numbernya yang dapat Anda peroleh melalui Kunci Menghasilkan. Jadi Selamat Eksplorasi ke PCB Designer 1,54 Unduh gratis dan aman di tempat kerja.
Download Disini atau Disini !!
Selamat Mencoba,, ^ ^ Kalo Bisa share Ya :D
Software PCB Designer 1,54 Download Gratis ini sangat mudah dioperasikan dan memiliki kemampuan yang sangat baik. Banyak menu yang diberikan meliputi Jalur Lebar pengaturan, Komponen Diameter Pad, Komponen Lubang Kaki Ukuran, Pin DIP IC dan Cetak Printer Settings. Meskipun tidak dilengkapi dengan Route Auto Line Designer Software PCB PCB 1,54 Unduh Gratis ini, tapi manual draf menurut saya lebih menguntungkan.
Setelah Anda download Software PCB Designer 1,54 RAR Gratis file itu, silahkan Extract dan Jalankan Setup dan Masukkan serial numbernya yang dapat Anda peroleh melalui Kunci Menghasilkan. Jadi Selamat Eksplorasi ke PCB Designer 1,54 Unduh gratis dan aman di tempat kerja.
Download Disini atau Disini !!
Selamat Mencoba,, ^ ^ Kalo Bisa share Ya :D
Cara Membuat PCB Sederhana
Beberapa waktu yang lalu ada seorang
rekan yang menanyakan tentang bagaimana cara membuat PCB secara mudah
dan praktis. Pertanyaan tersebut mungkin berawal saat rekan tersebut
melihat PCB ukuran sekitar 15-cm x 22-cm untuk 80/40-m SSB Transceiver,
suatu rangkaian yang cukup kompleks yang saya buat saat itu.

Setelah diseterika, direndam dan dikupas (siap dilarutkan) :
Setelah Pelarutan :

Dari pertanyaan tersebut sehingga saya
tulislah artikel ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat juga bagi yang lain
khususnya pengunjung blog ini. Menurut sepengetahuan saya ada beberapa
cara membuat PCB mudah dan praktis yaitu :
- Teknik Fotoresist, pada proses ini dibutuhkan beberapa alat dan bahan yaitu : Lampu UV, Larutan Positif-20 dan larutan NaOH
- Teknik Sablon, pada proses ini dibutuhkan bahan-bahan yang sama seperti pada teknik sablon biasa seperti kasa-screen, tiner sablon, cat dan lain-lain. Tekniknyapun hampir sama dengan sablon biasa
- Cetak Langsung ke PCB, pada proses ini digunakan teknik khusus untuk menyalin layout ke PCB yaitu digunakan mesin printer khusus yang telah dimodifikasi
- Teknik Transfer Paper, teknik ini merupakan cara Membuat PCB yang menurut saya paling murah dan mudah
Dari ke-empat cara membuat PCB tersebut
kita bisa memilih sesuai kebutuhan, mana yang lebih mudah, praktis dan
ekonomis. Menurut saya pribadi, untuk membuat PCB yang sama dalam jumlah
banyak lebih menguntungkan kalau digunakan Teknik Sablon karena murah
dan cepat. Sedangkan untuk membuat PCB dalam jumlah sedikit saya
cenderung menggunakan Teknik Transfer Paper seperti yang biasa saya
terapkan.
Namun mungkin ada perbedaan secara
mendasar yang saya gunakan dalam Teknik tersebut. Dalam teknik tersebut
biasanya digunakan kertas khusus untuk menyalin gambar layout ke PCB,
tetapi di sini cara saya membuat PCB menggunakan kertas HVS biasa yang
digunakan untuk Photo-Copy. Berikut caranya :
- Siapkan gambar jalur PCB yang Anda rencanakan. Utk membuatnya bisa gunakan Software PCB Designer 1.54.
- Cetak layout PCB pada kertas Foto dengan printer tinta biasa supaya fill dari jalur lebih padat
- Foto-Copy hasil cetakan tadi pada kertas HVS 70-gram. Usahakan hasil Foto-Copy bagus (tintanya padat). Ditempat saya yang seperti itu per-lembarnya Rp.125,- dengan mesin Xerox
- Siapkan PCB polos, bersihkan lapisan tembaga dengan Tiner A sambil digosok-gosok dengan Busa Karpet yang biasa digunakan buat cuci piring dan keringkan
- Siapkan seterika listrik, atur pada suhu sedang
- Cara selanjutnya untuk membuat PCB, tempelkan gambar jalur hasil Foto-Copy pada PCB dengan posisi gambar menempel pada lapisan tembaga
- Lakukan proses seterika dengan merata sambil menekan, lakukan sekitar 10 menit
- Caranya kemudian diamkan PCB sampai dingin dan rendam dalam air kira-kira 30 menit. Proses ini paling lama dalam membuat PCB karena kita harus memastikan bahwa kertas benar-benar hancur/lunak dan mudah dikupas
- Kupas kertas dengan hati-hati dan keringkan PCB
- PCB siap dilarutkan
Setelah diseterika, direndam dan dikupas (siap dilarutkan) :
Setelah Pelarutan :
Cara di atas menurut saya merupakan yang
mudah dan praktis dalam membuat PCB. Setelah dilarutkan dengan FeCL3
segera bersihkan lapisan tinta dengan Tiner A dan cuci dengan air serta
gosok dengan sabun. Selanjutnya oleskan larutan pelindung Arpus. Cara
pembuatannya, ambil 1 sendok makan Serbuk Arpus (Gondorukem) kemudian
larutkan dengan 150-ml Tiner A.
Aduk hingga Arpus benar-benar larut
kemudian oleskan tipis larutan tersebut pada lapisan tembaga PCB dan
biarkan hingga betul-betul kering. Cara tersebut akan membuat PCB awet
dan terlindung dari korosi. Begitulah cara membuat PCB yang sering saya
terapkan untuk berbagai jenis rangkaian elektronik baik itu analog
maupun digital mulai frekuensi rendah sampai frekuensi tinggi HF/VHF.
Rangkaian Speaker Aktif
Skema Aktif Speaker Seri Sederhana dan PCB. Di sini saya berbagi skema sederhana dari seri speaker aktif. Ini adalah hasil dari pengalaman saya didokumentasikan. Rangkaian aktif pembicara berdaya kecil. dan dibangun dengan komponen utama dari IC TA7283AP Toshiba.
Berikut Suami saya berbagi skema Rangkaian pembicara Aktif Sederhana. Suami merupakan pengalaman Hasil Yang saya dokumentasikan. Rangkaian pembicara Aktif Suami Berdaya Kecil Dan dibangun Mencari Google Artikel Komponen Utama IC TA7283AP bahasa Dari Toshiba.
IC dapat memperkuat daya sampai sekitar 5 watt. Menggunakan sumber daya +12 VDC - 2 Ampere. Untuk catu daya harus digunakan gelombang penuh untuk mendapatkan hasil yang optimal. Berikut skema dan jalur PCB speaker Watt 5 aktif. IC Suami Mampu menguatkan Daya hingga sekitar 5 Watt. Menggunakan Sumber Daya +12 VDC - 2 Ampere. Untuk Catu Daya sebaiknya digunakan Gelombang Penuh untuk mendapatkan Hasil optimal yang. Berikut inisial skema Rangkaian pembicara Aktif 5 Watt:
Berikut Suami saya berbagi skema Rangkaian pembicara Aktif Sederhana. Suami merupakan pengalaman Hasil Yang saya dokumentasikan. Rangkaian pembicara Aktif Suami Berdaya Kecil Dan dibangun Mencari Google Artikel Komponen Utama IC TA7283AP bahasa Dari Toshiba.
IC dapat memperkuat daya sampai sekitar 5 watt. Menggunakan sumber daya +12 VDC - 2 Ampere. Untuk catu daya harus digunakan gelombang penuh untuk mendapatkan hasil yang optimal. Berikut skema dan jalur PCB speaker Watt 5 aktif. IC Suami Mampu menguatkan Daya hingga sekitar 5 Watt. Menggunakan Sumber Daya +12 VDC - 2 Ampere. Untuk Catu Daya sebaiknya digunakan Gelombang Penuh untuk mendapatkan Hasil optimal yang. Berikut inisial skema Rangkaian pembicara Aktif 5 Watt:
Skema Rangkaian Speaker Aktif 5 Watt TA7283AP Toshiba
Gambar Jalur PCB Speaker Aktif 5 Watt
Seri speaker aktif berfungsi untuk memperkuat sinyal audio dari tingkat beberapa puluh watt miliwatt untuk beberapa atau beberapa puluh watt. Rangkaian di atas cukup untuk memenuhi kebutuhan ruang keluaran penguat audio dari komputer PC. Rangkaian di atas dapat memenuhi kebutuhan audio pribadi dengan mengacu pada optimal standar 2 Watt/m2 kebutuhan. Rangkaian pembicara Aktif berfungsi untuk menguatkan sinyal audio bahasa Dari Taraf beberapa Puluh miliwatt menjadi beberapa watt atau beberapa Puluh watt. Rangkaian di Atas sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan Penguat Audio ruangan gedung kantor bahasa Dari keluaran PC.
source : http://oprekzone.com
Kontrol Kipas Angin Pendingin Audio Power Amplifier
Rangkaian Pengontrol Kipas Angin Audio
Power Amplifier. Berikut saya share rangkaian yang digunakan untuk
mengontrol kipas angin 12 volt dengan konsumsi arus tidak lebih dari 200
mA. Dibuat dengan menggunakan rangkaian diskrit dan disajikan dalam
skema seperti di bawah ini. Sebuah audio power amplifier memang
membutuhkan pendinginan pada bagian penguat akhirnya untuk membantu
sirip pendingin membuang panas.
Panas yang berlebihan pada penguat akhir
audio power amplifier dapat menurunkan performa penguat daya dan bahkan
dapat merusak nya. Baiklah kita mulai dengan rangkaian pengontrol kipas
angin untuk audio power amplifier di bawah ini. Rangkaiannya sangat
sederhana terbuat dari komponen yang mudah diperoleh dipasaran. Daftar
komponen sudah terdapat pada bagian bawah skema rangkaian. Berikut ini
skema rangkaiannya :
Skema rangkaian pengontrol kipas angin
audio power amplifier di atas menggunakan tegangan kerja +12 Vdc dengan
konsumsi arus yang sangat kecil karena terdiri dari 2 transistor daya
rendah. Cara kerjanya adalah berdasarkan tegangan masukan yang berasal
dari keluaran penguat audio (speaker). Pada posisi volume rendah
rangkaian ini tidak akan bekerja yang berarti juga transistor/IC penguat
daya audio belum bekerja maksimal/optimal dan suhu belum panas. Pada
volume menengah atau tinggi, maka level sinyal audio akan mampu
menggerakkan basis Q1 dan akhirnya akan meneruskan bias ke Q1.
Pada rangkaian pengontrol kipas angin audio power amplifier
di atas, besarnya arus kolektor Q1 akan sebanding dengan level sinyal
masukan dari kabel speaker. Semakin tinggi volume atau level keluaran
sinyal audio maka putaran kipas angin akan semakin cepat yang berarti
mempercepat pembuangan panas pada pendingin penguat akhir. Nilai kritis
kipas mulai berputar dapat diatur dengan memanipulasi nilai dari R2
dengan catatan jangan sempai terlalu kecil karena akan bisa berakibat
kerusakan pada Q1. Kecepatan maksimal dari putaran kipas angin akan
lebih rendah dari yang diperoleh tanpa rangkaian kontrol.
Source : http://oprekzone.com
Jumat, April 27, 2012
SENSOR
Sensor adalah jenis tranduser yang digunakan untuk mengubah besaran mekanis, magnetis, panas, sinar, dan kimia menjadi tegangan dan arus listrik. Sensor sering digunakan untuk pendeteksian pada saat melakukan pengukuran atau pengendalian.
Beberapa jenis sensor yang banyak digunakan dalam rangkaian elektronik antara lain sensor cahaya, sensor suhu, dan sensor tekanan.
Selasa, April 24, 2012
Contoh Kapasitor dan Prinsip Kerja Kapasitor
Prinsip Kerja Kapasitor
Kegunaan Kapasitor
| Kapasitor Mika / Milar Kegunaan untuk: Filter, Kopling, Blok tegangan DC | |
| Kapasitor Elektrolit Kegunaan untuk: osilator, tuning | |
| Kapasitor Inti Udara Kegunaan untuk: Fine Tuning, Oscilator | |
| Kapasitor Tantalum Bead Kapasitor jenis ini banyak dipakai pada rangkaian Mother Board Komputer, jenis Kapasitor polar yang kuat dengan ukuran fisik kecil. |
Kapasitansi dan Apasitansi dan Tegangan Kerja Kapasitor
Tegangan Kerja Kondensator ( Working Voltage ) adalah tegangan maksimum yang diizinkan bekerja pada sebuah kapasitor. Kapasitas kondensator dinyatakan dengan satuan Farad dan tegangan kerja dinyatakan dengan Volt.
Tegangan kerja Kondensator/Kapasitor AC untuk non polar : 25 Volt; 50 Volt; 100 Volt; 250 Volt 500 Volt, Tegangan kerja DC untuk polar : 10 Volt; 16 Volt; 25 Volt; 35 Volt; 50 Volt; 100 Volt; 250 Volt Kapasitansi ( Kapasitas kapasitor ) bergantung pada :
| Keterangan : C adalah kapasitansi Q adalah sebuah muatan pada salahsatu konduktor V adalah beda potensial V kedua konduktor. |
| Keterangan : C adalah Kapasitansi µr adalah permitivitas relatif dari bahan dielektrik µo adalah permitifitas ruang hampa A adalah luas penampang plat ( M2) d adalah jarak antara kedua plat ( m) |
Pengisian dan Pengosongan Kapasitor
Kapasitor yang sudah diisi (charged) adalah semacam reservoir energi .Dalam pengisian (charging) dibutuhkan suatu aliran arus dari sumber tegangan . Bila pelat – pelat kapasitor tersebut hubung singkat dengan suatu penghantar maka akan terjadi pengosongan (discharging) pada kapasitor yang akan menimbulkan panas pada penghantar tersebut.
Energi yang dibutuhkan untuk memindahkan muatan 1 coulomb pada tegangan 1 volt adalah sebesar 1 joule.
| W = Q . V | Keterangan : Q adalah muatan V adalah tegangan |
Animasi Pengisian dan Pengosongan Kapasitor
Pada saat saklar S dihubungkan ke posisi 1 maka ada rangkaian tertutup antara tegangan V, saklar S, tahanan R, dan C. Arus akan mengalir dari sumber tegangan Kapasitor melalui tahanan R. Hal ini akan menyebabkan naiknya perbedaan potensial pada Kapasitor Dengan demikian, arus akan menurun sehingga pada suatu saat tegangan sumber akan sama dengan perbedaan potensial pada Kapasitor. Akan tetapi arus akan menurun sehingga pada saat tegangan sumber sama dengan perbedaan potensial pada Kapasitor dan arus akan berhenti mengalir (I = 0).
Pada saat saklar S dihubungkan pada posisi 2. pada saat itu kapasitor masih penuh muatannya. Karena itu arus akan mengalir melalui tahanan R. Pada saat sampai terjadi proses pengosongan kapasitor , tegangan kapasitor akan menurun sehingga arus yang melalui tahanan R akan menurun. Pada saat kapasitor sudah membuang seluruh muatannya (Vc = 0) sehingga demikian aliran arus pun berhenti (I = 0).
Aliran arus saat Pengisian dan Pengosongan Kapasitor
Grafik Pengisian dan Pengosongan Kapasitor
Grafik Pengisian dan Pengosongan Kapasitor
| t = R.C | Keterangan : t adalah konstanta waktu dalam detik R adalah konstanta dalam Ohm (Ω) C adalah kapasitansi dalam farad |
sumber ; http://m-edukasi.net
Konstanta Dielektrik
Konstanta dielektrik atau permitivitas listrik relatif, adalah sebuah konstanta dalam ilmu fisika. Konstanta ini melambangkan rapatnya fluks elektrostatik dalam suatu bahan bila diberi potensial listrik. Konstanta dielektrik merupakan perbandingan energi listrik yang tersimpan pada bahan tersebut jika diberi sebuah potensial, relatif terhadap vakum (ruang hampa).
Konstanta dielektrik dilambangkan dengan huruf Yunani εr atau kadang-kadang κ, K, atau Dk. Secara matematis konstanta dielektrik suatu bahan didefinisikan sebagai
dimana εs merupakan permitivitas statis dari bahan tersebut, dan ε0 adalah permitivitas vakum/. Permitivitas vakum diturunkan dari persamaan Maxwell dengan menghubungkan intensitas medan listrik E dengan kerapatan fluks listrik D. Di vakum (ruang hampa), permitivitas ε sama dengan ε0, jadi konstanta dielektriknya adalah 1.
Permitivitas relatif dari sebuah medium berhubungan dengan susceptibility (kerentanan) listriknya, χe melalui persamaan
^ ^ semoga bermanfaat!!!
Prinsip Kerja Kapasitor (Capasitor)
Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membahas mengenai cara kerja dari kapasitor. Kebanyakan orang terkadang masih bingung mengenai cara kerja dari kapasitor. Saya sendiri pada saat kuliah juga beberapa kali berubah pemahaman tentang bagaimana sebenarnya kapasitor itu bekerja. Seingat saya dulu pernah salah satu dosen bidang elektronika mengatakan bahwa kapasitor itu tidak bisa dilewati oleh arus searah dan oleh arus bolak-balik dianggap bagaikan seutas kawat. Sehingga pada waktu itu saya dan teman-teman khususnya salah satu sohib saya yang senang menganalisa rangkaian elektronika mempunyai pandangan seperti yang dikatakan oleh dosen tersebut. Sampai saat ini juga saya masih sering menjumpai beberapa orang yang menyimpulkan bahwa cara kerja kapasitor itu adalah seperti pendapat di atas. Sebenarnya saya tidak menyalahkan sepenuhnya pemahaman di atas, hanya saja setelah beberapa kali saya melakukan analisa terhadap kerja kapasitor sesungguhnya tidak bisa kita simpulkan secara pasti seperti pendapat di atas. Kapasitor itu bekerja sesuai dengan sifat atau karakteristik asli dari kapasitor itu sendiri. Tidak membedakan apakah arus searah atau arus bolak balik, yang pasti kapasitor hanya bekerja sesuai dengan karakterisitik yang sebenarnya.
Kapasitor ditemukan oleh Michael Faraday (1791-1867) dan dengan satuan farad. Komponen penyusun kapasitor itu sebenarnya adalah dua buah plat sejajar yang dipisahkan oleh bahan dielektrik (contoh : vacum, kertas, mika, keramik dll ) dan mempunyai sifat dasar bahwa kapasitor itu bila dialiri arus listrik maka akan menyimpan muatan, pengisian muatan itu terjadi selama kapasitor itu belum terisi penuh. Kemudian kapasitor akan melakukan pelepasan muatan apabila polaritas tegangan dari terminal yang dihubungkan padanya lebih rendah. Pelepasan muatan ini bisa saja terjadi walaupun kapasitor belum terisi penuh selama adanya perbedaan polaritas. Sesuai dengan aturan listrik bahwa arus listrik itu mengalir dari polaritas yang lebih tinggi ke polaritas yang lebih rendah. Muatan yang tersimpan dalam kapasitor dapat dihitung dengan rumus :
Q = C V
Dimana :
Q = Muatan listrik dalam Coulomb
C = Nilai kapasitansi dalam Farad
V = Nilai tegangan dalam volt
Nilai kapasitansi dihitung dengan rumus :
C = (8,85 x 10-12) (k A/t)
Dimana :
K = Konstanta dielektrik
Untuk bisa memahami secara meyakinkan mengenai cara kerja kapasitor, mari kita pelajari beberapa kombinasi dari rangkaian kapasitor di bawah ini.
I. Cara Kerja Kapasitor Pada Pengujian I
Gambar sinyal saat pelepasan muatan lebih lama
Mari kita perhatikan gambar di atas, pada saat saklar SW1 kita hubungkan dengan + supply 9V, maka kapasitor akan melakukan proses pengisian. Karena tidak ada tahanan kapasitor C1 bisa terisi langsung dengan cepat. Kemudian saat kita ubah posisi SW1 ke ujung R1 47K maka, kapasitor C1 akan melakukan pelepasan muatan. Hal ini terjadi karena polaritas pada ujung R1 lebih kecil dibanding dengan polaritas pada ujung terminal C1. Polaritas tegangan pada C1 adalah sesuai dengan supply pada waktu pengisian sedangkan pada R1 adalah 0 volt. Proses pelepasan muatan C1 bisa anda lihat pada gambar grafik di atas, dimana pelepasan kapasitor berlangsung sedikit lama dikarenakan ditahan oleh R1. R1 membuat arus yang mengalir pada saat pelepasan muatan menjadi kecil sehingga proses pelepasan menjadi lebih lama.
II. Cara Kerja Kapasitor Pada Pengujian II
Gambar sinyal saat pengisian muatan lebih lama
Coba perhatikan gambar di atas, sengaja saya rancang berkebalikan dengan rangkaian kapasitor yang pertama supaya anda bisa dengan mudah memahami. Jika pada rangkaian pertama proses pengisian berlangsung sangat cepat dan proses pelepasan terjadi lebih lama, tapi pada rangkaian yang kedua ini proses pengisian yang menjadi lebih lama, sedangkan proses pelepasan terjadi sangat cepat sekali. Mengapa demikian karena semakin besar tahanan yang dipasang seri dengan kapasitor baik itu pada rangkaian pengisian atau pelepasan maka arus yang mengalir dari kapasitor akan semakin kecil sehingga muatan listrik yang ada pada kapasitor akan lebih lama habisnya. Sedangkan jika tidak ada tahanan yang dipasang seri terhadap kapasitor maka arus akan mengalir lebih besar dan kapasitor akan terisi penuh dengan lebih cepat. Kejadian di atas bisa anda analogikan seperti sebuah penampungan air. Pipa yang mempunyai diameter lebih besar akan menjadikan pengisian atau pembuangan air menjadi lebih cepat, sedangkan pipa yang lebih kecil akan membuat pengisian atau pembuangan air menjadi lebih lama.
III. Cara Kerja Kapasitor Pada Pengujian III
Gambar sinyal tegangan kapasitor dengan tegangan AC
Pada rangkaian yang ketiga ini saya akan mencoba kerja kapasitor dengan sumber tegangan bolak balik 10 Vac dan frekuensi 1 Hz. Yang menarik bagi saya sejak dulu kebanyakan orang berpendapat bahwa arus bolak balik bisa melewati kapasitor seperti sebuah kawat sedangkan arus searah tidak bisa melakukannya. Coba perhatikan gambar grafik di atas, Sinyal yang berwarna merah adalah tegangan yang diukur dengan osiloscope pada kapasitor 100 µF (rangkaian I) sedangkan sinyal yang berwarna biru adalah tegangan yang diukur pada kapasitor 1 µF (rangkaian II). Jika kita cermati maka sesungguhnya pada rangkaian I, kapasitor 100 µF berkerja hampir seperti sebuah kawat, sehingga tegangan sebagian besar akan jatub pada resistor dan tegangan pada kapasitornya sendiri mendekati 0 volt (sesuai dengan aturan pembagian tegangan). Kemudian pada rangkaian II, kapasitor bekerja seperti kawat yang terbuka, ini bisa kita lihat dari tegangan yang ada pada kapasitor tersebut. Tegangan yang berwarna biru pada grafik di atas menunjukkan tegangan yang ada pada kapasitor 1 µF, dimana tegangan tersebut hampir sama dengan tegangan puncak dari tegangan supply. Cara kerja kapasitor pada rangkaian II bagaikan saklar yang terbuka dan tahanan yang begitu besar membuat tegangan sebagian besar jatuh padanya.
Analisa dari kedua rangkaian dengan tegangan AC di atas adalah :
- Pada rangkaian I, nilai kapasitor lebih besar akan membuat proses pengisian menjadi lambat sehingga kapasitor baru terisi sedikit, supply tegangan sudah berbalik ke siklus sebaliknya.
- Pada rangkaian II, nilai kapasitor yang lebih kecil akan membuat proses pengisan menjadi lebih cepat, sehingga kapasitor telah terisi penuh sebelum siklus selanjutnya dan pada kondisi kapasitor yang penuh arus tidak akan bisa melewati kapasitor dikarenakan adanya keseimbangan. Jadi dengan begitu tegangan antara kapasitor akan sama dengan tegangan supply (seharunya tegangan kapasitor mendelkati 0 V jika berpedoman pada pendapat kebanyakan orang selama ini, kenyataannya malah berkebalikan.
- Pada rangkaian I dan II tidak memiliki perbedaan prinsip, intinya pada saat proses pengisian kapasitor sebelum kapasitor terisi penuh maka arus akan tetap mengalir pada rangkaian. Tetapi arus tidak akan mengalir lagi jika kapasitor sudah terisi penuh. Pelepasan muatan terjadi apabila nilai potensial berkebalikan dengan posisi potensial pada saat pengisian.
IV. Cara Kerja Kapasitor Pada Pengujian IV
Gambar perbandingan sinyal kapasitor dengan tahanan yang dipasang seri
Yang terakhir adalah rangkaian yang saya yakin akan membuat anda paham dengan cara kerja kapasitor. Coba pehatikan, jumlah tegangan pada R5 dan C5 adalah sama dengan tegangan supply sesuai dengan yang ditunjukkan grafik di atas. Tegangan pada kapasitor ditunjukkan oleh kurva yang berwarna merah sedangkan tegangan pada resistor oleh kurva yang berwarna biru. Alur kerjanya adalah, arus listrik mengalir melalui kapasitor kemudian berlanjut pada resistor. Selama kapasitor belum terisi penuh maka arus listrik akan tetap mengalir pada rangkaian tersebut, arus listrik yang mengalir akan semakin mengecil seiring terisinya kapasitor. Jika pada pengisian tegangan pada kapasitor bernilai kecil, maka sisa tegangan yang lebih besar jatuh pada resistor, sebaliknuya pada saat kapasitor sudah terisi penuh maka tegangan yang jatuh pada resistor akan bernilai 0 volt dikarenakan tidak ada lagi arus yang mengalir pada rangkaian.
Dari beberapa kombinasi rangkaian pengujian kapasitor di atas, maka kesimpulannya adalah :
- Kapasitor bisa dilewati oleh arus searah maupun arus bolak-balik. Hanya saja pada rangkaian arus searah, arus hanya akan mengalir pada saat proses pengisian kapasitor dan kapasitor belum terisi penuh.
- Kapasitor tetap tidak bisa dilewati oleh arus bolak balik manakala nilai dari kapasitor tersebut terlalu kecil dibandingkan dengan tegangan supply yang diberikan kepada kapasitor serta frekuennsi tegangan supply tersebut. Hal ini dikarenakan kapasitor sudah terisi penuh jauh sebelum siklus sinyal selanjutnya.
- Selama pengisian kapasitor, arus yang mengalir pada rangkaian akan semakin kecil sampai mencapai 0 ampere pada saat kapasitor penuh.
- Proses pelepasan terjadi apabila kedua kaki kapasitor mendapatkan potensial listrik yang terbalik dari pada saat pengisian. Atau dengan kata lain adanya perbedaan potensial antara kapasitor dengan rangkaian yang terhubung padanya.
Kamis, Desember 09, 2010
Penguat Transistor
Salah satu fungsi utama transistor adalah sebagai penguat sinyal. Dalam hal ini transistor bisa dikonfigurasikan sebagai penguat tegangan, penguat arus maupun sebagai penguat daya.
Berdasarkan sistem pertanahan transistor (grounding) penguat transistor dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Penguat Common Base (grounded-base)
Penguat Common Base adalah penguat yang kaki basis transistor di groundkan, lalu input di masukkan ke emitor dan output diambil pada kaki kolektor. Penguat Common Base mempunyai karakter sebagai penguat tegangan.
Penguat Common base mempunyai karakter sebagai berikut :
Penguat Common Emitor adalah penguat yang kaki emitor transistor di groundkan, lalu input di masukkan ke basis dan output diambil pada kaki kolektor. Penguat Common Emitor juga mempunyai karakter sebagai penguat tegangan.
Penguat Common Emitor mempunyai karakteristik sebagai berikut :
Penguat Common Collector adalah penguat yang kaki kolektor transistor di groundkan, lalu input di masukkan ke basis dan output diambil pada kaki emitor. Penguat Common Collector juga mempunyai karakter sebagai penguat arus .
Penguat Common Collector mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. Penguat Kelas A
Penguat kelas A adalah penguat yang titik kerja efektifnya setengah dari tagangan VCC penguat. Untuk bekerja penguat kelas A memerlukan bias awal yang menyebabkan penguat dalam kondisi siap untuk menerima sinyal. Karena hal ini maka penguat kelas A menjadi penguat dengan efisiensi terendah namun dengan tingkat distorsi (cacat sinyal) terkecil.
Sistem bias penguat kelas A yang populer adalah sistem bias pembagi tegangan dan sistem bias umpan balik kolektor. Melalui perhitungan tegangan bias yang tepat maka kita akan mendapatkan titik kerja transistor tepat pada setengah dari tegangan VCC penguat. Penguat kelas A cocok dipakai pada penguat awal (pre amplifier) karena mempunyai distorsi yang kecil.
2. Penguat Kelas B
Penguat kelas B adalah penguat yang bekerja berdasarkan tegangan bias dari sinyal input yang masuk. Titik kerja penguat kelas B berada dititik cut-off transistor. Dalam kondisi tidak ada sinyal input maka penguat kelas B berada dalam kondisi OFF dan baru bekerja jika ada sinyal input dengan level diatas 0.6Volt (batas tegangan bias transistor).
Penguat kelas B mempunyai efisiensi yang tinggi karena baru bekerja jika ada sinyal input. Namun karena ada batasan tegangan 0.6 Volt maka penguat kelas B tidak bekerja jika level sinyal input dibawah 0.6Volt. Hal ini menyebabkan distorsi (cacat sinyal) yang disebut distorsi cross over, yaitu cacat pada persimpangan sinyal sinus bagian atas dan bagian bawah.
Penguat kelas B cocok dipakai pada penguat akhir sinyal audio karena bekerja pada level tegangan yang relatif tinggi (diatas 1 Volt). Dalam aplikasinya, penguat kelas B menggunakan sistem konfigusi push-pull yang dibangun oleh dua transistor.
3. Penguat kelas AB
Penguat kelas AB merupakan penggabungan dari penguat kelas A dan penguat kelas B. Penguat kelas AB diperoleh dengan sedikit menggeser titik kerja transistor sehingga distorsi cross over dapat diminimalkan. Titik kerja transistor tidak lagi di garis cut-off namun berada sedikit diatasnya.
Penguat kelas AB merupakan kompromi antar efisiensi dan fidelitas penguat. Dalam aplikasinya penguat kelas AB banyak menjadi pilihan sebagai penguat audio.
4. Penguat kelas C
Penguat kelas C mirip dengan penguat kelas B, yaitu titik kerjanya berada di daerah cut-off transistor. Bedanya adalah penguat kelas C hanya perlu satu transistor untuk bekerja normal tidak seperti kelas B yang harus menggunakan dua transistor (sistem push-pull). Hal ini karena penguat kelas C khusus dipakai untuk menguatkan sinyal pada satu sisi atau bahkan hanya puncak-puncak sinyal saja.
Penguat kelas C tidak memerlukan fidelitas, yang dibutuhkan adalah frekuensi kerja sinyal sehingga tidak memperhatikan bentuk sinyal. Penguat kelas C dipakai pada penguat frekuensi tinggi. Pada penguat kelas C sering ditambahkan sebuah rangkaian resonator LC untuk membantu kerja penguat. Penguat kelas C mempunyai efisiensi yang tinggi sampai 100 % namun dengan fidelitas yang rendah.
Berdasarkan sistem pertanahan transistor (grounding) penguat transistor dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Penguat Common Base (grounded-base)
Penguat Common Base adalah penguat yang kaki basis transistor di groundkan, lalu input di masukkan ke emitor dan output diambil pada kaki kolektor. Penguat Common Base mempunyai karakter sebagai penguat tegangan.
Penguat Common base mempunyai karakter sebagai berikut :
- Adanya isolasi yang tinggi dari output ke input sehingga meminimalkan efek umpan balik.
- Mempunyai impedansi input yang relatif tinggi sehingga cocok untuk penguat sinyal kecil (pre amplifier).
- Sering dipakai pada penguat frekuensi tinggi pada jalur VHF dan UHF.
- Bisa juga dipakai sebagai buffer atau penyangga.
Penguat Common Emitor adalah penguat yang kaki emitor transistor di groundkan, lalu input di masukkan ke basis dan output diambil pada kaki kolektor. Penguat Common Emitor juga mempunyai karakter sebagai penguat tegangan.
Penguat Common Emitor mempunyai karakteristik sebagai berikut :
- Sinyal outputnya berbalik fasa 180 derajat terhadap sinyal input.
- Sangat mungkin terjadi osilasi karena adanya umpan balik positif, sehingga sering dipasang umpan balik negatif untuk mencegahnya.
- Sering dipakai pada penguat frekuensi rendah (terutama pada sinyal audio).
- Mempunyai stabilitas penguatan yang rendah karena bergantung pada kestabilan suhu dan bias transistor.
Penguat Common Collector adalah penguat yang kaki kolektor transistor di groundkan, lalu input di masukkan ke basis dan output diambil pada kaki emitor. Penguat Common Collector juga mempunyai karakter sebagai penguat arus .
Penguat Common Collector mempunyai karakteristik sebagai berikut :
- Sinyal outputnya sefasa dengan sinyal input (jadi tidak membalik fasa seperti Common Emitor)
- Mempunyai penguatan tegangan sama dengan 1.
- Mempunyai penguatan arus samadengan HFE transistor.
- Cocok dipakai untuk penguat penyangga (buffer) karena mempunyai impedansi input tinggi dan mempunyai impedansi output yang rendah.
1. Penguat Kelas A
Penguat kelas A adalah penguat yang titik kerja efektifnya setengah dari tagangan VCC penguat. Untuk bekerja penguat kelas A memerlukan bias awal yang menyebabkan penguat dalam kondisi siap untuk menerima sinyal. Karena hal ini maka penguat kelas A menjadi penguat dengan efisiensi terendah namun dengan tingkat distorsi (cacat sinyal) terkecil.
Sistem bias penguat kelas A yang populer adalah sistem bias pembagi tegangan dan sistem bias umpan balik kolektor. Melalui perhitungan tegangan bias yang tepat maka kita akan mendapatkan titik kerja transistor tepat pada setengah dari tegangan VCC penguat. Penguat kelas A cocok dipakai pada penguat awal (pre amplifier) karena mempunyai distorsi yang kecil.
2. Penguat Kelas B
Penguat kelas B adalah penguat yang bekerja berdasarkan tegangan bias dari sinyal input yang masuk. Titik kerja penguat kelas B berada dititik cut-off transistor. Dalam kondisi tidak ada sinyal input maka penguat kelas B berada dalam kondisi OFF dan baru bekerja jika ada sinyal input dengan level diatas 0.6Volt (batas tegangan bias transistor).
Penguat kelas B mempunyai efisiensi yang tinggi karena baru bekerja jika ada sinyal input. Namun karena ada batasan tegangan 0.6 Volt maka penguat kelas B tidak bekerja jika level sinyal input dibawah 0.6Volt. Hal ini menyebabkan distorsi (cacat sinyal) yang disebut distorsi cross over, yaitu cacat pada persimpangan sinyal sinus bagian atas dan bagian bawah.
Penguat kelas B cocok dipakai pada penguat akhir sinyal audio karena bekerja pada level tegangan yang relatif tinggi (diatas 1 Volt). Dalam aplikasinya, penguat kelas B menggunakan sistem konfigusi push-pull yang dibangun oleh dua transistor.
3. Penguat kelas AB
Penguat kelas AB merupakan penggabungan dari penguat kelas A dan penguat kelas B. Penguat kelas AB diperoleh dengan sedikit menggeser titik kerja transistor sehingga distorsi cross over dapat diminimalkan. Titik kerja transistor tidak lagi di garis cut-off namun berada sedikit diatasnya.
Penguat kelas AB merupakan kompromi antar efisiensi dan fidelitas penguat. Dalam aplikasinya penguat kelas AB banyak menjadi pilihan sebagai penguat audio.
4. Penguat kelas C
Penguat kelas C mirip dengan penguat kelas B, yaitu titik kerjanya berada di daerah cut-off transistor. Bedanya adalah penguat kelas C hanya perlu satu transistor untuk bekerja normal tidak seperti kelas B yang harus menggunakan dua transistor (sistem push-pull). Hal ini karena penguat kelas C khusus dipakai untuk menguatkan sinyal pada satu sisi atau bahkan hanya puncak-puncak sinyal saja.
Penguat kelas C tidak memerlukan fidelitas, yang dibutuhkan adalah frekuensi kerja sinyal sehingga tidak memperhatikan bentuk sinyal. Penguat kelas C dipakai pada penguat frekuensi tinggi. Pada penguat kelas C sering ditambahkan sebuah rangkaian resonator LC untuk membantu kerja penguat. Penguat kelas C mempunyai efisiensi yang tinggi sampai 100 % namun dengan fidelitas yang rendah.
Penguat Comman Emitor
Pada rangkaian BJT terdapat tiga rangkaian dasar penguat (amplifier), yaitu emitor bersama (common-emitter, CE), kolektor bersama (common-collector, CC) dan basis bersama (common-base, CB). Berikut ini akan dijabarkan penjelasan dari ketiga rangkaian dasar tersebut.
1. Emitor bersama (common-emitter)
Rangkaian emitter bersama (common-emitter) adalah rangkaian BJT yang menggunakan terminal emitor sebagai terminal bersama yang terhubung ke sinyal sasis (ground), sedangkan terminal masukan dan keluarannya terletak masing-masing pada terminal basis dan terminal kolektor.
Rangkaian penguat common-emitter adalah yang paling banyak digunakan karena memiliki sifat menguatkan tegangan puncak amplitudo dari sinyal masukan. Faktor penguatan dari transistor dilambangkan dengan simbol beta (β).
Gambar dari rangkaian dasar common-emitter adalah sebagai berikut:
Gambar 1. Rangkaian dasar common-emitter
C1 dan C2 adalah kapasitor kopling yang menentukan dalam analisis DC dan AC, karena berfungsi sebagai hubungan singkat (short circuit) atau hubungan terbuka (open circuit). Besarnya penguatan ditentukan oleh hambatan basis RB dan hambatan kolektor RC, yang akan dijelaskan kemudian.
Rangkaian common-emitter dapat dibagi menjadi rangkaian fixed bias, voltage divider bias dan emitter bias.
a. Rangkaian common-emitter fixed bias
Rangkaian fixed bias adalah rangkaian yang paling sederhana dalam rangkaian common-emitter, yang mana hanya terdiri dari hambatan basis dan hambatan kolektor saja, seperti tergambar pada Gambar 1.
Pada analisis AC, semua kapasitor kopling, Vcc, dan sumber DC lainnya dianggap sebagai suatu hubung singkat (short-circuit), sehingga rangkaian pada Gambar 1 menjadi seperti gambar berikut ini:
Gambar 2. Rangkaian yang akan dianalisis
Dari gambar di atas dapat ditentukan besarnya impedansi masukan (Zi) dan impedansi keluaran (Zo), dengan menggunakan suatu model yang dapat menggantikan transistor menjadi sumber-sumber dan hambatan-hambatan. Model yang umum digunakan adalah model hybrid-π, dengan mengacu kepada arus kolektor (IC) sebagai dasar untuk menentukan transkonduktansi (gm) dari transistor.
Dengan terlebih dahulu menerapkan analisis DC di mana semua kapasitor dianggap sebagai suatu hubung terbuka, dapat ditentukan arus basis IB, arus emitor IE dan arus kolektor IC sebagai berikut:
Setelah arus basis IB, arus emitor IE dan arus kolektor IC ditentukan, maka selanjutnya dapat digambarkan rangkaian pengganti untuk transistor dalam mode arus AC sebagai berikut:
Gambar 3. Model hybrid-π dari gambar 2
Model di atas menggambarkan hubungan basis dengan emitor sebagai sebuah hambatan rπ, dan hubungan antara kolektor dengan emitor digambarkan sebagai sebuah sumber arus terkendali tegangan (voltage controlled current source, VCCS) yang besarnya diatur oleh perkalian nilai transkonduktansi (gm) dengan nilai tegangan dari hambatan basis-emitor (vπ). Pada kolektor juga terdapat suatu faktor hambatan ro yang mempengaruhi besarnya impedansi output, yang besarnya bervariasi tergantung kepada jenis transistor.
Besarnya transkonduktansi (gm) dapat dihitung sebagai berikut:
Nilai k adalah konstanta bahan transistor, T adalah suhu ruangan (dalam satuan kelvin, K) dan q adalah massa satu elektron (1,62.1023 C). Pada keadaan ideal (suhu ruangan), nilai kT/q adalah 25 mV.
Nilai dari hambatan basis-emitor, rπ, dapat dihitung sebagai berikut:
Untuk ro sangat besar maka Zo dapat disederhanakan menjadi:
Faktor penguatan tegangan (AV) adalah besarnya penguatan tegangan dari terminal keluaran (Vo) terhadap tegangan dari terminal masukan (Vi) yang dirumuskan sebagai berikut:
Hubungan antara Vi dan Vo dengan gm dirumuskan sebagai berikut:
dan
Substitusikan Vo pada persamaan Av, maka diperoleh hubungan antara Av dengan gm sebagai berikut:
Jika nilai ro sangat besar , maka persamaan penguatan tegangan di atas dapat disederhanakan menjadi:
Nilai dari faktor penguatan arus (Ai) diperoleh dari besarnya Av, yang dirumuskan sebagai berikut:
Jika nilai ro sangat besar , maka persamaan penguatan arus di atas dapat disederhanakan menjadi:
Langganan:
Postingan (Atom)

